Budaya
03 Jul 2024

Ruwatan Bumi di Kampung Adat Banceuy: Wujud Syukur dan Pelestarian Alam

Ruwatan Bumi di Kampung Adat Banceuy: Wujud Syukur dan Pelestarian Alam
Kampung Adat Banceuy, Subang — Masyarakat Kampung Adat Banceuy menggelar tradisi sakral Ruwatan Bumi, sebuah upacara adat yang diwariskan secara turun-temurun sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta atas hasil bumi yang melimpah serta permohonan keselamatan bagi seluruh warga dan alam sekitar. Upacara yang dilaksanakan di Balai Adat Kampung Banceuy ini dihadiri oleh tokoh adat, warga setempat, serta para tamu undangan yang turut menyaksikan kemegahan budaya tradisional masyarakat Banceuy. Suasana penuh kebersamaan dan kekhidmatan terasa sejak pagi, ketika warga mempersiapkan perlengkapan ritual dan hasil bumi yang akan digunakan dalam prosesi adat. Makna dan Tujuan Ruwatan Bumi Ruwatan Bumi memiliki makna mendalam bagi masyarakat adat. Kata “ruwatan” berarti penyucian atau pembebasan, sedangkan “bumi” melambangkan alam tempat manusia berpijak dan bergantung hidup. Melalui ritual ini, masyarakat Kampung Adat Banceuy berupaya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam, serta menolak segala hal buruk yang dapat mengganggu kehidupan. Tradisi ini juga menjadi sarana untuk memohon keberkahan hasil panen, keselamatan warga, dan kelestarian lingkungan yang menjadi sumber kehidupan bersama. Rangkaian Kegiatan Upacara dimulai dengan doa bersama dan pembacaan mantra adat yang dipimpin oleh sesepuh kampung. Setelah itu dilaksanakan prosesi arak-arakan hasil bumi seperti padi, sayur, dan buah-buahan yang dibawa keliling kampung sebagai simbol rasa syukur atas berkah alam. Selanjutnya dilakukan ritual penyiraman air suci dan tabur bunga di sekitar balai adat dan sawah sebagai bentuk penghormatan kepada bumi. Suasana semakin meriah dengan penampilan seni tradisional, seperti karinding, kendang penca, dan kesenian rakyat lainnya yang menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi adat Banceuy. Nilai Budaya dan Filosofis Upacara Ruwatan Bumi mengandung nilai-nilai luhur yang menekankan pentingnya keseimbangan hidup, kebersamaan, dan rasa hormat terhadap alam. Masyarakat percaya bahwa dengan menjaga hubungan baik antara manusia, alam, dan Tuhan, kehidupan akan senantiasa harmonis dan penuh berkah. Selain itu, kegiatan ini menjadi bentuk nyata dari pelestarian budaya dan spiritualitas lokal, serta upaya menjaga identitas masyarakat adat di tengah perkembangan zaman. “Ruwatan Bumi bukan hanya ritual, tapi juga pengingat bagi kita semua untuk menjaga alam dan mensyukuri karunia yang telah diberikan,” ujar salah satu tokoh adat Kampung Banceuy. Penutup Melalui pelaksanaan Ruwatan Bumi, Kampung Adat Banceuy menunjukkan komitmen kuat dalam melestarikan warisan budaya dan menjaga keseimbangan ekosistem alam. Tradisi ini bukan sekadar seremoni, melainkan manifestasi hubungan harmonis antara manusia dan bumi, yang terus dijaga sebagai warisan leluhur yang penuh makna. 📍 Lokasi: Kampung Adat Banceuy, Desa Sanca, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang 📅 Tanggal Pelaksanaan: 03/07/2024 👥 Diselenggarakan oleh: Masyarakat Adat Banceuy 📷 Dokumentasi: (Foto prosesi adat, arak-arakan hasil bumi, dan seni tradisional)
Diterbitkan pada 03 July 2024